Selasa, 26 Juni 2012

GAMBARAN PENGETAHUAN IBU TENTANG RAMPAN KARIES PADA BALITA DI TK CUT MEUTIA KECAMATAN BAITURRAHMAN BANDA ACEH TAHUN 2011

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar belakang
Tujuan pembangunan Nasioanl di bidang kesehatan adalah terciptanya hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Untuk mencapai tujuan tersebut diselenggarakan upaya kesehatan yang menyeluruh, terpadu, merata dan dapat diterima dan terjangkau oleh masyarakat dengan peran serta aktif masyarakat (Depkes RI, 1995).  Undang- Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan, menjelaskan bahwa upaya kesehatan adalah setiap kegiatan atau serangkaian kegiatan yang dilakukan secara terpadu, terintergrasi dan berkesinambungan untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dalam bentuk pencegahan penyakit, dan pemulihan kesehatan oleh pemerintah atau masyarakat (Depkes RI, 2009).
Kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian dari kesehatan tubuh yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya sebab kesehatan gigi dan mulut akan mempengaruhi kesehatan tubuh. Pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut merupakan salah satu upaya di dalam meningkatkan kesehatan gigi dan mulut. Peranan rongga mulut sangat besar bagi kesehatan dan kesejahteraan manusia. Secara umum, seseorang dikatakan sehat bukan hanya tubuhnya yang sehat melainkan juga sehat rongga mulut dan giginya. Oleh kerena itu, kesehatan gigi dan mulut sangat berperan dalam menunjang kesehatan tubuh seseorang (Gultom, 2009).

Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, menunjukkan prevalensi pengalaman karies gigi masyarakat Indonesia termasuk anak-anak adalah 72,1%, Prevalensi karies aktif 46,5% dengan indeks rata-rata DMF-T masih tinggi yaitu 4,8. Indeks DMF-T masyarakat provinsi NAD juga masih pada kategori sedang, yaitu 4,3. Berbagai indikator dan target telah ditentukan WHO, antara lain anak umur 5 tahun 90% bebas karies, anak umur 12 tahun mempunyai tingkat keparahan kerusakan gigi (indeks DMF-T) sebesar 1 (satu) gigi; penduduk umur 18 tahun bebas gigi yang dicabut (komponen M = 0); penduduk umur 35-44 tahun memiliki minimal 20 gigi berfungsi sebesar 90%,dan penduduk umur 35-44 tanpa gigi (edentulous ) ≤2%; penduduk umur 65 tahun ke atas masih mempunyai gigi berfungsi sebesar 75% dan penduduk tanpa gigi ≤5%.
Hasil Karakteristik survei kesehatan, Prevalensi karies gigi pada balita usia 3-5 tahun sebesar 81,7%. Prevalensi tertinggi terdapat pada balita perempuan (58,2%) dan balita berusia 4 tahun (59,7%). Prevalensi karies gigi menurut kelompok usianya, usia 3 tahun (60%), usia 4 tahun (85%), dan usia 5 tahun (86,4%) (Suryawati,dkk, 2009).
            Penelitian yang dilakukan oleh Taverud (2009) menunjukkan bahwa prevalensi karies gigi pada anak sangat bervariasi jika didasarkan atas golongan umur dimana anak berusia 1 tahun sebesar 5%, anak usia 2 tahun sebesar 10%, anak, usia 3 tahun sebesar 40%, anak usia 4 tahun sebesar 55%, dan anak usia 5 tahun sebesar 75%. Dengan demikian golongan umur balita merupakan golongan rawan terjadinya karies gigi.
Pengetahuan ibu terhadap kebersihan gigi dan mulut akan menuntaskan status kesehatan gigi anak kelak. Mulai tumbuhnya gigi merupakan proses penting dari pertumbuhan seorang anak, orang tua khususnya ibu harus mengetahui cara merawat gigi anaknya tersebut, dan juga harus mengajari anaknya cara merawat gigi yang baik dan benar. Walaupun masih memiliki gigi susu, seorang anak harus mendapatkan perhatian yang serius dari orang tua, karena gigi susu akan mempengaruhi pertumbuhan gigi permanen anak. Akan tetapi banyak orang tua yang beranggapan bahwa gigi susu hanya sementara dan akan diganti oleh gigi tetap, sehingga mereka sering menganggapi bahwa kerusakan pada gigi susu yang disebabkan oleh oral higiene yang buruk bukan merupakan suatu masalah. (Gultom, 2009). Persatuan dokter gigi Australia pernah mengungkapkan bahwa: “kesehatan gigi geligi anak adalah tanggung jawab ibunya”. Hal ini dapat dipahami karena umumnya yang paling dekat dengan anak sejak usia menyusui adalah ibunya. (Machfoedz, 2008).
Rampan karies adalah istilah yang di gunakan untuk mengambarkan suatu keadaan sebahagian besar atau semua gigi susu yang mengalami kerusakan (karies) secara luas dan berkembang dengan cepat. Walaupun karies ini erat kaitannya dengan pemberian susu/cairan manis lainnya dengan menggunakan botol secara berkepanjangan (mahafudo, 2008), pada umumnya susu botol diberikan pada balita sepanjang hari sejak anak bermain sampai tidur, efek dan tindakan ini adalah bila di gigi anak sudah bererupsi pada bulan ke -6 sehingga insiden rampan karies ini bias sangat tinggi terjadi pad anak. (Afnilina, 2006)
Berdasarkan pemeriksaan pendahuluan yang di lakukan penulis pada  balita di TK CUT MEUTIA Banda  Aceh bahwa, dari 18 balita yang di lakukan pengamatan, terdapat 12 balita yang mengalami kerusakan gigi (rampan karies) dan 6 balita yang  memiliki gigi sehat. Hal ini menunjukkan bahwa masih kurang pengetahuan ibu terhadap kerusakan gigi anak ( Rampan Karies). Oleh karena itu penulis ingin mengetahui pengetahuan Ibu tentang rampan karies di TK Cut Meutia Kecamatan Baiturrahman Banda Aceh.
B.     Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang maka perumusan masalah yang akan dikaji adalah, Bagaimana  “Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Rampan Karies Pada Balita di TK  Cut Meutia Kecamatan Baiturrahman Banda Aceh tahun2011.”

C.    Tujuan
1.      Tujuan Umum
Tujuan umum penelitian ini untuk mengetahui Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Rampan Karies Pada Balita di TK Cut Meutia Kecamatan Baiturrahman Banda Aceh Tahun 2011.

2.      Tujuan Khusus
a.   Untuk mengetahui pengetahuan Ibu tentang rampan karies pada balita di TK Cut Meutia Kecamatan Baiturrahman Banda Aceh Tahun 2011.
b.   Untuk mengetahui ada atau tidak adanya rampan karies pada balita di TK Cut Meutia  kecamatan Baiturrahman Banda Aceh tahun 2011.
D.    Manfaat penelitian
1.      Bagi Peneliti
Menambah wawasan ilmu pengetahuan peneliti untuk meningkatkan diri dan disiplin ilmu terutama yang menyangkut dengan kesehatan gigi.

2.      Bagi Akademi
Hasil penelitian ini dapat di gunakan sebagai bahan referensi atau di kajikan  dipustaka bagi mahasiswa jurusan kesehatan gigi poltekkes kemenkes NAD.

3.      Bagi Lokasi Penelitian
Hasil penelitian ini sebagai masukan atau bahan informasi tentang status kesehatan gigi dan mulut pada balita di TK Cut Meutia Kecamatan Baiturrahman Banda Aceh Tahun 2011.




BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.    Pengetahuan
1.      Pengertian Pengetahuan
                 Secara umum pengertian pengetahuan menurut Notoatmodjo (2007), adalah hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui panca indra manusia, yaitu penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga.
                 Menurut Notoatmodjo (2007), pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (overt behavior).
2.      Tingkatan Pengetahuan
                 Pengetahuan yang mencakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan , yaitu :
a.        Tahu (Know)
Tahu diartikan sebagai pengingat suatu meteri yang dipelajari sebelumnya. Termasuk kedalam pengetahuan ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau ransangan yang telah diterima.


b.       Memahami (Comprehensian)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterprestasikan materi tersebut secara benar.

c.       Applikasi (Application).
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi yang real (sebenarnya).

d.       Analisis (Analysis)
Suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek kedalam komponen-komponen, tetapi masih ada di dalam suatu struktur organisasi tersebut,dan masih ada kaitan nya satu sama lain.
e.        Sintesis (Synthesis)
Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.
f.        Evaluasi (Evaluation)
 Evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek.
3.      Pengetahuan Orangtua
                 Pengetahuan orangtua terurama seorang ibu terhadap bagaimana menjaga kesehatan gigi dan mulut sangat penting dalam mendasari terbentuknya perilaku yang mendukung kebersihan gigi dan mulut anak, sehingga kesehatan gigi dan mulut anak dapat baik. Pengetahuan ibu tentang kesehatan gigi akan sangat menentukan status kesehatan gigi anaknya kelak. Seorang ibu memerlukan peran penting dalam keluarga, baik sebagai seorang istri, maupun sebagai seorang ibu dari anak-anaknya. Figur pertama yang dikenal anak begitu dia lahir adalah ibu, Oleh karena itu perilaku dan kebiasaan ibu dapat dicontoh oleh sianak. Namun, pengetahuan saja tidak cukup, perlu di ikuti dengan sikap dan tindakan yang tepat. (Gultom, 2009).
                      Sebagai orangtua terutama seorang ibu seharusnya memiliki pengetahuan mengenai pendidikan kesehatan gigi yang baik terutama di dalam pemeliharaan kesehatan gigi anak, pada anak-anak yang mempunyai kebiasaan meminum susu atau minuman manis lainnya, secara berkepanjangan dan diikuti  dengan kebersihan rongga mulut yang jelek, ini akan mendukung terjadinya karies pada anak. penyikatan gigi merupakan tindakan yang paling mudah di lakukan setiap harinya dengan tujuan untuk menjaga kebersihan gigi dan mulut. Dan untuk mendapatkan hasil yang optimal harus diperhatikan frekuensi penyikat gigi. peranan orangtua hendaknya ditingkatkan dalam membiasakan menyikat gigi anak secara teratur guna menghindarkan kerusakan gigi anak dan penyakit mulut.
                 Kesehatan gigi susu sangat mempengaruhi perkembangan dan pertumbuhan gigi tetap. Oleh karena itu, peran serta orangtua sangat diperlukan di dalam membimbing, memberi pengertian, mengingatkan, dan menyediakan fasilitas kepada anak agar anak kelak dapat memelihara kebersihan gigi dan mulut. (Gultom, 2009).
B.     Rampant Karies

1.      Pengertian Rampant Karies
Rampan karies adalah istilah yang di gunakan untuk menggambarkan terjadinya kerusakan yang sangat cepat pada beberapa gigi yang sering melibatkan permukaan gigi yang biasanya relative bebas karies. Karies rampan terutama terdapat pada gigi- geligi sulung anak yang terus-menerus menghisap botol yang berisikan gula atau dicelupkan dahulu ke dalam larutan gula( Kidd BGM Smith, 2002). Apabila rampan karies dibiarkan proses karies ini dapat cepat meluas mengenai seluruh gigi sehingga keadaan menjadi lebih parah dengan akibat lanjut yaitu pulpa nekrosis dan kelainan jaringan periapikal serta kerusakan pada gigi permanen, Pada saat itu penderita akan kesulitan makan dan akan mempengaruhi kesehatan umum. Rampant karies juga bisa muncul pada gigi permanen pada usia remaja, karena seringnya mereka mengkonsumsi snack-snack yang bersifat kariogenik juga minuman yang manis diantara waktu makan. Rampant karies pada orang dewasa ditandai dengan karies pada bukal dan lingual dari premolar dan molar dan juga proximal dan labial karies di insisiv Rahang bawah (Paradipta, 2009).

2.      Gambaran Klinis Rampan Karies
Gambaran klinis dari Rampan karies mempunyai pola dan tipe yang khusus. Gambaran pola kariesnya terlihat jelas, dengan lesi terutama pada bagian labial gigi insisif atas, dan atau pada palatal molar atas. Tipe kariesnya sejalan dengan lengkung gusi gigi insisif rahang atas. Proses kariesnya cenderung aktif, gigi lainnya akan terpengaruh sejalan dengan erupsinya yaitu akan mengenai molar kesatu rahang atas, kaninus rahang bawah dan molar kedua, namun jarang mengenai insisif rahang bawah, hal ini mungkin terjadi karena posisinya yang terlindung oleh lidah (Paradipta, 2009).

3.      Faktor Penyebab Terjadinya Rampan Karies
Penyebab utama dari Rampan Karies adalah penggunaan botol susu dalam waktu yang berkepanjangan.Susu akan berada di dalam mulut dalam jangka waktu yang lama dan akan terjadi fermentasi.  Sehingga menyebabkan gigi akan mudah terkena infeksi. Pemberian ASI dengan periode yang lama, memakai dot kosong yang dicelupkan ke dalam madu, sirup atau gula juga dapat menyebabkan rampan karies. Sayangnya sebagian besar anak-anak yang menderita rampan karies tidak sesegera mungkin diatasi. Karena orang tua baru akan memberi perhatian,apabila telah ada keluhan dari sang anak.  Kebanyakan dari mereka berfikiran bahwa gigi susu yang terinfeksi akan mengalami pergantian oleh gigi tetap. Sehingga perawatan terhadap gigi susu seringkali terabaikan ( Mamimendy, 2010).
Adapun faktor lainnya yang dapat menyebabkan  Rampan karies yaitu :
a.       Faktor predisposisi yaitu terjadinya rampant  karies  karena mengkonsumsi gula, Berkurangnya saliva, Adanya streptokokus mutans dalam tingkat yang infeksius, Perubahan fisiologi dalam rongga mulut misalnya karena kebiasaan oral hygiene yang  buruk.
b.      Faktor herediter, orang tua yang peka terhadap karies, hal ini disebabkan karena dalam keluarga mempunyai pola kebiasaan makan yang sama dan pemeliharaan kesehatan gigi yang sama pula.
c.       Faktor sistemik, misalnya penderita diabetes mellitus.
d.      Seringnya mengkonsumsi makanan dan minuman yang mengandung karbohidrat terutama di antara waktu makan, waktu makan merupakan faktor yang dihubungkan dengan perkembangan rampan karies.

4.       Proses Terjadinya Rampan Karies
Penyebab terjadinya rampan karies ( baby bottle syndrome) adalah pemberian susu botol yang tidak tepat, hal ini terjadi akibat kebiasaan minum susu atau cairan yang mengandung gula dari botol dalam jangka waktu yang lama, bahkan sampai anak tertidur. Proses karies ini berlangsung sangat cepat dan menyebar dari satu gigi ke gigi seri rahang lainnya, pada gigi seri rahang bawah jarang terjadi karena gigi-gigi itu terlindung oleh saliva ketika anak menghisap susu dari botol (Afrilina, 2006). Dan bila di tinjau dari dari faktor pathogenesis bahwa posisi tidur, dengan dot botol dalam rongga mulut maka cairan manis akan membasahi permukaan gigi sulung terutama insisif, molar atas dan molar bawah, pada keaadaan tersebut jumlah aliran saliva menurun dan kualitas saliva mengental sehingga efek pembersihan saliva berkurang, lingkungan demikian akan meningkatkan kualitas bakteri kariogenik, hasil fermentasi antara sukrosa dan bakteri menurunkan ph saliva sehingga lingkungan rongga mulut menjadi asam permukaan gigi yang terkena akan mengalami demineralisasi dan akhirnya karies (Kidd Edwina).
5.      Pencegahan Rampan Karies
Tindakan pencegahan terhadap rampan karies harus dilakukan, karena semakin parah karies maka semakin kompleks pula perawatan yang harus dilakukan. Ada beberapa cara untuk mencegah terjadinya rampan karies, meliputi :
a.       Berikan nasihat pada orang tua anak agar membuat anak merasa tenang dan nyaman saat tidur, jangan memberikan dot botol yang berisi larutan gula (susu.
b.       formula atau sari buah), biasakan berikan anak air putih dalam dot botol atau dot karet.
c.       Usahakan jangan memasukkan gula, madu, atau yang mengandung larutan gula ke dalam dot botol.
d.      Jangan membiarkan anak menghisap ASI secara kontinyu saat tidur, karena ASI juga dapat menyebabkan kerusakan gigi. Biasakan anak menghisap dot botol yang berisi air.
e.       Jangan menambahkan gula yang berlebihan dalam makanan anak
f.       Gunakan kain kasa yang dibasahi air atau kain tipis untuk membersihkan gigi dan gusi anak setelah makan atau minum yang mengandung gula atau karbohidrat. Ini akan membantu menghilangkan plak bakteri dan gula yang tumbuh dalam gigi dan gusi.
g.      Jika air minum yang diminum setiap harinya tidak mengandung fluoride, maka suplemen fluoride atau perawatn fluoride seperti topikal aplikasi dan fissure sealant dapat diberikan.
h.      Ajarkan kepada anak untuk membiasakan minum menggunakan gelas atau cangkir menjelang umurnya 1 tahun. Anak sebaiknya berhenti minum menggunakan dot botol setelah umurnya 1 tahun.
i.        Berikan nasihat pada orang tua anak untuk segera mengunjungi dokter gigi, apabila tampak tanda kemerahan dan bengkak pada mulut anak atau bercak/spot hitam pada gigi anak (Paradipta, 2009).

6.      Perawatan Rampan Karies
Pada kasus rampan karies dapat di lakukan beberapa perawatan sebagai berikut :
a.       Relief of  pain (menghilangkan rasa sakit)
Tindakan yang di lakukan adalah trepanasi apabila di jumpai ganggren pulpa atau abses, kemudian berikan obat- obatan melalui oral (antibiotic,analgetik)
b.      Menghentikan proses karies
Tiap kavitas meskipun kecil mempunyai jaringan nekrotik, setelah rasa sakit hilang kavitas dipreparasi untuk membuang semua jaringan yang nekrotik sehingga proses karies terhenti.
c.       Anjuran untuk melakukan diet kontrol dan jelaskan mengenai DHE dan oral hygene. Lakukan oral profilaksis pada gigi.
d.      Lakukan topical aplikasi dengan larutan fluor pada gigi sebagai preventif. Apabila tidak jumpai karies cukup dengan pemakaian pasta gigi yang mengandung fluor.
e.       Evaluasi secara periodic setiap3 bulan sampai diperoleh keadaan oral hygene yang baik dan diet yang sesuia dengan anjuran koreksi faktor sistemik( bila ada) .

C.    Balita
1.      Pengertian Balita
Balita dan bayi yang berusia di bawah 5 tahun yang merupakan semua anak termasuk bayi yang baru lahir, umur bayi di hitung dari 0 sampai 1 bulan neonatus, 1 bulan sampai 1 tahun di sebut juga dengan toddler, di bawah 2 tahun di sebut baduta, dan di bawah 5 tahun disebut dengan balita (sari, 2008)

2.      Proses Pertumbuhan Dan Perkembangan Gigi Balita
Pertumbuhan gigi susu dimulai sejak janin dalam kandungan usia 8 minggu kehamilan ibu, gigi susu pertama kali tumbuh pada bayi berusia lebih dari 6 bulan sejak ia lahir, gigi tumbuh secara berurutan yang dimulai dengan gigi seri pertama bawah, kemudian diikuti dengan gigi seri pertama atas, selanjutnya gigi seri kedua atas dan bawah akan tumbuh pada usia 1 tahun, pada usia 18 bulan akan tumbuh gigi geraham pertama atas dan bawah yang akan diikuti dengan tumbuhnya gigi taring. Pada usia 2 tahun tumbuh gigi geraham kedua atas dan bawah. Gigi mencapai tumbuh sempurna pada saat anak berusia 2 tahun (Afrilina,2006).
Diet yang baik sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan bayi, tetapi perkembangan gigi geligi tampaknya lebih banyak di pengaruhi oleh gangguan keseimbangan kalsium dan fosfor di dalam aliran darah, panas badan yang tinggi atau infeksi usus dapat mengganggu keseimbangan mineral dan lebih banyak mempengaruhi struktur gigi geligi janin dibanding gangguan nutrisi ibu (Narendra, 2002).

3.      Tahap-Tahap Pertumbuhan Gigi
Mulai tumbuhnya gigi merupakan proses penting dari pertumbuhan seseorang anak, tahap-tahap penting tumbuh gigi dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Gigi geligi
Waktu erupsi (bulan)
·         Geligi rahang atas
·         Gigi seri pertama
·         Gigi seri kedua
·         Gigi taring
·         Gigi geraham pertama
·         Gigi geraham kedua

-          6,5
-          8
-          18
-          14
-          24
·         Geligi rahang bawah
·         Gigi seri pertama
·         Gigi seri kedua
·         Gigi taring
·         Gigi geraham pertama
·         Gigi geraham kedua

-          6
-          7
-          16
-          10
-          20
sumber Child Development 2009





BAB III
KERANGKA KONSEP PENELITIAN
A.    KERANGKA KONSEP

                 Orangtua terutama seorang ibu harus memiliki pengetahuan mengenai pendidikan kesehatan gigi yang baik terutama di dalam pemeliharaan kesehatan gigi anaknya, pada anak-anak yang mempunyai kebiasaan meminum susu atau minuman manis lainnya, secara berkepanjangan dan diikuti dengan kebersihan rongga mulut yang jelek, ini akan mendukung terjadinya karies pada anak (Gultom, 2009). Rampan karies adalah nama yang di berikan kepada kerusakan yang meliputi beberapa gigi yang cepat sekali terjadinya, seringkali meliputi permukaan gigi yang biasanya bebas karies. Menyebar luas dan bahkan dapat menyebabkan terkena pulpa (Kidd Edwina).
                         Berdasarkan konsep pemikiran di atas dapat di buat skema penelitian sebagai berikut :
Pengetahuan Ibu dan Rampan karies
 B.     Variabel Penelitian

1.       Pengetahuan Ibu.
2.      Rampan karies.

C.      Definisi Operasional
No
Variabel
Definisi Operasional
Cara Ukur
Alat Ukur
Hasil Ukur
Skala Ukur

1











2

Pengetahuan ibu










Rampan karies









pengetahuan ibu bagaimana cara memelihara dan merawat kesehatan gigi dan mulut anak.




Suatu keadaan dimana semua atau sebagian besar  gigi susu mengalami kerusakan secara meluas dan proses perkembangan nya sangat cepat.

Wawancara











pemeriksaan

Kuisioner











-Chek lis
-Diagnosa set

Baik >50%
Kurang baik ≤ 50%







-Ada
-Tidak ada


Ordinal











Nominal






BAB  IV
METODE PENELITIAN

A.    Jenis Penelitian
Penelitian ini bersifat deskiptif, yaitu untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu tentang rampan karies pada balita di TK Cut Meutia  Kecamatan Baiturrahman Banda Aceh Tahun 2011.

B.     Tempat dan Waktu Penelitian
1.      Tempat Penelitian
Penelitian dilakukan di TK Cut Meutia Kecamatan Baiturrahman Banda Aceh tahun 2011, alasan penulis memilih  lokasi  tersebut karena belum ada yang melakukan penelitian serupa sebelumnya.
2.      Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 18- 20 juli 2011.

C.    Populasi dan Sampel
1.      Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh anak balita kelas B inti di TK Cut Meutia Banda Aceh yang jumlah balitanya 53 orang, dan ibu balita sebagai responden.

2.      Sampel
Sampel dalam penelitian ini diambil dari total populasi yang jumlah balitanya 53 orang, dan diikut sertakan ibu balita sebagai responden.
D.    Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan pada penelitian ini adalah sebagai berikut :
a.       Alat diagnosa : untuk memeriksa karies gigi yang terdiri dari sonde, pinset, kaca mulut
b.      Kuesioner  : untuk mengetahui pengatahuan ibutentang  rampan karies pada anak balita
c.       Lembaran chek list : untuk mencatat  gigi  yang karies.

E.     Cara Mengumpulkan Data
Penelitian ini menggunakan data primer yang diperoleh langsung dengan melakukan  pemeriksaan gigi pada anak balita dan mewawancarai orang tua atau ibu balita dengan kuisioner  yang sudah di sediakan dan data sekunder mengenai jumlah balita di TK CUT MEUTIA Banda Aceh Tahun 2011.

F.     Pengolahan dan Analisa Data
1.      Pengolahan Data
Setelah data berhasil di kumpulkan langkah selanjutnya yang di lakukan adalah mengolah data sehingga jelas sifat-sifat yang dimiliki oleh data tersebut. Proses pengolahan data di lakukan dengan menggunakan beberapa tahap sebagai berikut:
a.      Editing
Pada tahap ini data dikumpulkan dan diperiksa kembali apakah sudah lengkap jawabannya atau tidak, memeriksa nama dan identitas responden, data yang di berikan berkesinambungan atau tidak dalam arti tidak ditemukan data yang bertentangan satu dengan yang lain.
b.      Coding
Yaitu dengan melakukan pengkodean data dengan angka atau kode tertentu sehingga lebih mudah dan sederhana.
c.Tabulating
Pada tahap ini data di kelompokkan ke dalam table tertentu menurut sifat yang dimiliki sesuai tujuan penelitian .

G.    Analisis Data
Data yang didapat dari hasil kuisioner secara deskriptif dengan menghitung persentase setiap variabel.

H.    Penyajian Data
Data hasil penelitian dari tiap-tiap variabel di sajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan juga menggun  nakan tabel silang.



BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A.    Hasil Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 18 sampai dengan 20 juli tahun 2011 di TK Cut Meutia Banda Aceh Tahun 2011. Sampel pada penelitian ini adalah seluruh anak balita yang ada dikelas B inti di TK Cut Meutia Banda Aceh  sebanyak  53 orang dan diikut sertakan ibu balita sebagai responden. Pengumpulan data di peroleh dari pemeriksaan status rampan karies pada anak balita dan kuisioner  yang di berikan pada 53 ibu balita. 

1.      Data  Umum
a.      Jeniskelamin
Tabel I
Distribusi frekuensi Responden anak balita berdasarkan jenis kelamin di TK Cut Meutia Banda Aceh
No
JenisKelamin
Frekuensi
%
1
Laki- laki
27
51 %
2
Perempuan
26
49 %

Total
53
100 %

Berdasarkan tabel 1 di atas dapat dilihat bahwa anak balita berjenis kelamin laki- laki sebanyak  27 orang (51%) dan balita perempuan sebanyak 26 orang (49%).


b.      Umur
Tabel 2
Distribusi frekuensi Responden anak balita berdasarkan umur di TK Cut Meutia Kecamatan Baiturrahman Banda Aceh

No
Umur
Frekuensi
%
1
4 Tahun
21
40%
2
5 Tahun
32
60%

Total
53
100%

Berdasarkan tabel 2 di atas dapat dilihat bahwa anak balita yang berumur 4 tahun sebanyak  21 orang  (40%),  dan balita  yang berumur 5 tahun sebanyak 32 orang (60%).
1.      Data khusus
a.      Rampan Karies
Tabel 3
Distribusi Frekuensi Responden Anak Balita Berdasarkan  Ada atau Tidaknya Rampan Karies di TK Cut Meutia Keucamatan baiturrahman Banda Aceh  Tahun 2011
No
RampanKaries
Frekuensi
%
1
Ada
42
79%
2
Tidak  Ada
11
21%

Jumlah
53
100%

Berdasarkan tabel 3 dapat di lihat bahwa dari 53 responden  yang mengalami rampan  karies 79%, sedangkan yang tidak mengalami rampan karies  21%.
b.      Pengetahuan Ibu
Tabel 4
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pengetahuan Ibu Tentang Rampan Karies Pada Balita di TK Cut Meutia Kecamatan Baiturrahman Banda Aceh Tahun 2011

No
Pengetahuan Ibu
Frekuensi
%
1
Baik
17
32 %
2
Kurangbaik
36
68 %

Total
53
100 %

Berdasarkan tabel 4 dapat dilihat bahwa pengetahuan ibu dalam katagori baik berjumlah 17 orang (32%), Sedangkan yang katagori kurang baik 36 orang (68%).
Pengetahuan Ibu Tentang Rampan Karies Pada Balita
Tabel 5
Tabel Rata- rata Pengetahuan Ibu Tentang Rampan Karies Pada Balita di Tk Cut Meutia Kecamatan Baiturrahman Banda Aceh Tahun 2011
No
Pengetahuan Ibu
Frekuensi
Rata- rata
Kategori
1
Baik
980


2
Kurang Baik
1650
49,62
Kurang baik

Total
2630


Berdasarkan tabel diatas dapat di lihat bahwa tingkat pengetahuan ibu di TK Cut Meutia Banda Aceh  rata –rata  kurang baik yaitu 49,62.
 

2.      Pembahasan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata –rata pengetahuan ibu di TK Cut Meutia Kecamatan Baiturrahman Banda Aceh termasuk katagori kurang baik yaitu 49,62 dan 42 balita yang mengalami rampan karies. Menurut penulis, rendahnya pengetahuan ibu di karenakan ibu tidak memperdulikan kesehatan gigi anaknya karna ibu beranggapan gigi anak akan terganti setelah mengalami kerusakan, tetapi banyak ibu tidak mengetahui dampak dari kerusakan gigi anak, yang akan menyebabkan anak susah makan, susah tidur  karena giginya sakit. Hal ini di karenakan rampan karies rawan terjadi pada anak balita. Menurut  Nelson (2002), kebanyakan ibu tidak menyadari pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut anak, ibu baru akan memberi perhatian apabila telah ada keluhan dari sang anak. Pengetahuan ibu dalam peningkatan kebersihan gigi dan mulut harus di wujudkan melalui kesadaran yang tinggi dari ibu dan anak. Segala sesuatu hal harus ada kesinambungan antara pengetahuan dan sikap yang di cerminkan dalam bentuk perbuatan, sebab sering kali ibu memperlihatkan sesuatu yang bertentangan dengan pengetahuan dan sikapnya. Pengetahuan sangat berkaitan dengan pengalaman, kesadaran dan informasi yang di terima terutama tentang kebersihan gigi dan mulut. Pengetahuan yang tinggi merupakan hasil tau dan ini terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu atau indera penglihatan (Notoadmojo, 2003).
Pentingnya menjaga kebersihan gigi anak usia dini agar terhindar dari rampan karies,karena rampan karies sangat sering terjadi pada balita terlebih yang mengkonsumsi susu botol dalam jangka waktu yang lama, posisi anak tidur dengan botol/dot dalam rongga mulut maka cairan manis akan membasahi permukaan gigi sulung pada keadaan tersebut jumlah aliran saliva menurun dan kualitas saliva mengental sehingga efek pembersihan saliva berkurang, lingkungan demikian akan meningkatkan kualitas kariogenik, hasil fermentasi antara sukrosa dan bakteri menurunkan PH saliva sehingga gigi mengalami demineralasasi email dan akhirnya menjadi karies (Afrilina, 2006).
Dari penelitian tersebut dapat diketahui bahwa pengetahuan ibu sangat mempengaruhi terjadinya rampan karies pada balita, Pengetahuan orangtua terurama seorang ibu terhadap bagaimana menjaga kesehatan gigi dan mulut sangat penting dalam mendasari terbentuknya perilaku yang mendukung kebersihan gigi dan mulut anak, sehingga kesehatan gigi dan mulut anak dapat baik. Pengetahuan ibu tentang kesehatan gigi akan sangat menentukan status kesehatan gigi anaknya kelak. Figur pertama yang dikenal anak begitu dia lahir adalah ibu, Oleh karena itu perilaku dan kebiasaan ibu dapat dicontoh oleh sianak. Namun, pengetahuan saja tidak cukup, perlu di ikuti dengan sikap dan tindakan yang tepat. (Gultom, 2009)


BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
A.    Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa :
1.      Dari 53 balita,42 orang ( 79%)  yang mengalami rampan karies dan 11 orang (21%) yang tidak mengalami rampan karies.
2.      Pengetahuan ibu dengan katagori kurang baik berjumlah 36 orang (68%) sedangkan yang katagoribaikhanya 17 orang (32%).

B.     Saran
1.      Disarankan kepada orang tua (ibu) untuk lebih meningkatkan pengetahuan dan pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut anak terutama rampan karies pada anak balita sehingga dapat mencegah terjadinya rampan karies.
2.      Disarankan kepada para tenaga kesehatan gigi agar lebih meningkatkan promosi atau penyuluhan tentang rampan karies pada ibu.


DAFTAR PUSTAKA
Afrilina, G,2006. 75 Masalah Gigi Anak Dan Solusinya, Gramedia; Jakarta

Anonym, 2009.gigi kurang bersih picu terjadinya karies.http://www.lifestyle.okezone.com/read/2008/ gigi-kurang -bersih –picu-terjadinya-karies. Html

Child development, 2009. Pertumbuhan gigi, http://www.bayisehat.com/child-development-mainmenu35.html

Depkes,1995. Tata kerja pelayanan asuhan kesehatan gigi dan mulut di puskesmas, Jakarta

            , 2009. Undang-undang kesehatan, Jakarta.

Gultom, M, 2010. Pengetahuan Sikap Dan Tindakan ibu-ibu Rumah Tanggal. http://repository.usu.ac.id/bitstream/Chapter I.pdf.html

Jelsoft, 2004. Merangkai meningkatkan kesehatan gigi dan mulut melalui pelayanan, pencegahan, untuk pendidikan, http://www.google.com

Kidd Edwina,1991. Dasar-dasar karies, EGC ; Jakarta

Mamimendy, 2010. Rampant karies, http://mamymendy.Blogspot.com

Machfoedz I, 2008. Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut Anak-Anak dan Ibu Hamil, Jakarta.
Mahafudo, 2008. Penangganan Karies. http://www.google.com

Narendra, M.sularyo, dkk, 2002. tumbuh kembang anak dan remaja,kesehatan gigi anak dan jaringan sekitarnya,sagang seto, Jakarta

Notoadmodjo,S.1993. Pendidikan kesehatan Dan ilmu Perilaku Kesehatan, Yogyakarta.

Paradipta, A,2009. Karies botol (bottle milk caries).

Suwelo, I.S.,1992. Karies Gigi Pada Anak dengan Berbagai Faktor Etiologi, EGC, Jakarta.

Sari, C, 2008. Balita Dan Gigi, http://www.google.com

Sutadi,H, 2002.penanggulangan rampan karies serta keluhan pada anak. http://isjd.pdii.lipi.go.id/indek php.html

Suryawati,dkk, 2009. Prevalensi karies pada anak balita.