Rabu, 13 Februari 2013

FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA GINGIVITIS PADA IBU HAMIL YANG BERKUNJUNG KE POLI KIA PUSKESMAS BATOH KECAMATAN LUENG BATA BANDA ACEH TAHUN 2012

BAB I
PENDAHULUAN
                                                                                                   
A. Latar Belakang
            Kesehatan adalah keadaan sehat baik secara fisik, mental, spiritual, maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk produktif secara sosial dan ekonomis. pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan setinggi-tingginya, sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif dan ekonomis (Depkes, 2009)
Pembangunan di bidang kesehatan gigi merupakan bagian integral  pembangunan kesehatan nasional, artinya dalam melaksanakan kesehatan pembangunan, pembangunan di bidang kesehatan gigi tidak boleh di tinggalkan. Dalam mengatasi masalah kesehatan gigi, perlu menunjang upaya kesehatan agar menjadi derajat kesehatan yang optimal, upaya di bidang kesehatan gigi perlu ditinjau dari aspek lingkungan, kesadaran masyarakat dan penanganan kesehatan gigi termasuk pencegahan dan perawatan. (Pratiwi, 2007).
Kesehatan gigi dan mulut masyarakat Indonesia masih merupakan  hal yang perlu mendapatkan perhatian serius dari kesehatan, baik dokter maupun perawat gigi, hal ini terlihat bahwa penyakit gigi dan mulut masih diderita oleh 90% penduduk Indonesia. salah satu faktor penyebab timbulnya masalah kesehatan gigi dan mulut pada masyarakat adalah faktor prilaku yang mengabaikan kebersihan gigi dan mulut (Notoatmodjo, 2004). Upaya pelayanan gigi merupakan salah satu tugas pokok dari perawat gigi dalam pelayanan asuhan sistematik yang meliputi upaya peningkatan pencegahan, pengobatan pemulihan, dan rujukan yang ditujukan pada kelompok rentan, khususnya ibu hamil. Pemeliharaan kebersihan dan kesehatan gigi dan mulut pada kelompok ibu hamil sangat diperlukan untuk memperoleh fungsi pengunyahan yang optimal, agar makanan dapat dicerna dengan baik sehingga zat nutrisi bisa diserap sempurna (Depkes RI, 2000 ).
Pada masa kehamilan banyak ibu hamil yang membutuhkan makanan camilan, kebiasaan ini bisa merusak kesehatan gigi jika makan kecil tersebut banyak mengandung gula, hal ini disebabkan karena nilai gizinya kurang,makanan tersebut sangat rawan akan penyakit pada gigi dan mulut. Penyakit dalam rongga mulut yang sering terjadi pada waktu hamil, yaitu gingivitis, kondisi ini disebabkan ibu hamil yang malas memelihara kebersihan gigi. Penyakit gingivitis ini juga disebabkan oleh faktor lokal (plak dan karang gigi) dan faktor sistemik seperti pengaruh hormonal, faktor umur kehamilan dan perilaku ibu hamil terhadap kesehatan gigi (Boediharjo,  1985).
Untuk mencapai hasil perawatan yang optimal dokter gigi sebaiknya memahami proses kehamilan, perkembangan janin, manifestasi kehamilan di rongga mulut dan prosedur-prosedur yang dapat membahayakan keadaan ibu hamil, seperti perawatan yang dapat menimbulkan kelelahan, pemberian obat-obatan dan radiographi gigi. (Affiandi R, 1996)
Berdasarkan data dokter gigi (PDGI) tahun 2009 menyebutkan prevalensi gingivitis di seluruh dunia adalah 75%-90%. Sedangkan data dari penelitian di rumah sakit gigi dan mulut pendidikan universitas Prof. Dr. Moestopo tahun 2004 mencatat 71,3% pasien di rumah sakit ini memiliki karang gigi sebagai pemicu timbulnya penyakit radang gusi, 3% menderita pendarahan gusi, dan 25,55% mengalami penurunan gusi. Dan penyakit gingivitis  ini menduduki peringkat ke 2 setelah penyakit karies gigi.
Berdasarkan data RISKESDAS 2007, Provinsi NAD termasuk dalam  5 Provinsi tertinggi masalah gigi dan mulut dengan prevalensi (30,5%) yang sebagian besar penderitanya adalah wanita hamil, lebih lanjut data RISKESDAS tersebut, prevalensi penduduk provinsi NAD yang melakukan konseling/kebersihan gigi hanya (13,2%) dan juga presentasi penduduk NAD yang berprilaku benar menggosok gigi (4,9%).
Adapun data yang diambil di Poli KIA Puskesmas Batoh, dari 123 ibu hamil yang berkunjung antara bulan Januari sampai bulan Mei 2012, tercatat  ada 115 ibu hamil yang menderita penyakit gingivitis. Maka dari itu peneliti ingin melakukan penelitian terhadap faktor-faktor penyebab terjadinya gingivitis pada ibu hamil yang berkunjung ke Poli KIA Puskesmas Batoh tersebut.
Berdasarkan hasil pemeriksaan gingivitis yang telah dilakukan pada 6 orang ibu hamil di Poli KIA Puskesmas Batoh didapatkan bahwa 5 orang dari ibu hamil menderita gingivitis, maka dari itu peneliti ingin meneliti lebih lanjut faktor-faktor penyebab terjadinya gingivitis pada ibu hamil.

B. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Mengetahui Apa sajakah Faktor-faktor penyebab terjadinya Gingivitis Pada ibu hamil yang berkunjung ke Poli KIA Puskesmas Batoh Kecamatan Lueng Bata Banda Aceh Tahun 2012
2. Tujuan Khusus
a.    Mengetahui penyebab primer gingivitis pada ibu hamil yang berkunjung ke Poli KIA Puskesmas Batoh kecamatan Lueng Bata Banda Aceh Tahun 2012
b.    Mengetahui penyebab sekunder gingivitis pada ibu hamil yang berkunjung ke Poli KIA Puskesmas Batoh kecamatan Lueng Bata Banda Aceh Tahun 2012.

C.  Manfaat Penelitian
1.      Manfaat Teoritis
            Untuk menambah wawasan, pengetahuan dan pengalaman dalam bidang penyakit umum khususnya tentang penyakit gingivitis pada ibu hamil.
2.      Manfaat Praktis
            Dapat memberikan informasi mengenai hal-hal yang mempengaruhi faktor-faktor penyebab terjadinya penyakit gingivitis pada ibu hamil, sehingga dapat meningkatkan kesadaran akan pentingnya pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut. 




BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.    Gingiva
1.      Pengertian Gingiva
Gingival adalah bagian mukosa rongga mulut yang mengelilingi gigi dan menutupi linggir (riedge) alveolar. Merupakan bagian dari apparatus pendukung gigi, periodonsium, dan dengan membentuk dengan gigi, gingival berfungsi melindungi jaringan di bawah perlekatan gigi terhadap pengaruh lingkungan rongga mulut. Gingival tergantung pada gigi geligi: bila ada gigi geligi, gingival juga ada dan bila gigi di cabut gingival akan hilang (Manson, 1993)
Gingival merupakan bagian dari jaringan periodontal yang paling luar. Gingival sering kali di pakai indicator bila jaringan periodontal terkena penyakit. Hal ini disebabkan karena kebanyakan penyakit periodontal dimulai dari gingival, kadang-kadang gingival juga dapat menggambarkan tulang alveolar yang berada dibawahnya (herrijulianti, 2009)

2.    Gambaran Klinis Gingiva Normal
Gambaran klinis gingiva dipakai sebagai dasar untuk mengetahui perubahan patologis yang terjadi pada gingival yang terjangkit suatu penyakit. Gambaran klinis gingival klinis gingival normal terdiri dari:
a.    Warna gingiva
Warna gingiva normal umumnya berwarna merah jambu (corak pink) hal ini diakibatkan oleh adanya suplai darah, tebal dan derajat lapisan keratin epithelium serta sel-sel pigmen. Warna ini bervariasi pada setiap orang dan erat hubungannya dengan pigmentasi kutaneus. Pigmentasi pada gingival biasanya terjadi pada individu yang memiliki warna kulit yang gelap. Pigmentasi pada attached gingiva  mulai dari coklat  sampai hitam. Warna pada alveolar mukosa lebih merah, hal ini disebabkan oleh karena alveolar mucosa tidak mempunyai lapisan keratin dan epitelnya tipis.
b.    Besar Gingiva
Besar gingiva ditentukan oleh jumlah elemen seluler, interseluler dan suplai darah. Perubahan besar gingival merupakan gambaran yang paling sering di jumpai pada penyakit periodontal.
c.    Kontur gingiva
Kontur dan besar gingival sangat bervariasi. Keadaan ini dipengaruhi oleh bentuk dan susunan gigi geligi pada lengkungan, lokalisasi dan luas area kontak proksimal dan dimensi embrasure (interdental) gingiva oral maupun vestibular. Interdental papil menutupi  bagian interdental, sehingga tampak lancip.
d.   Konsistensi
Gingival melekat erat kestruktur dibawahnya dan tidak mempunyai lapisan submukusa sehingga gingiva tidak dapat  digerakkan dan kenyal.
e.    Teksture
Permukaan attached gingiva berbintik-bintik seperti kulit jeruk. Bintik-bintik ini disebut stipiling. Stipiling akan terlihat jelas apabila permukaan gingival kering (Daliemunthe, 2008).

B.     Gingivitis
1.      Pengertian Gingivitis
Gingivitis adalah akibat proses peradangan gusi. Biasanya disebabkan oleh gangguan  kuman, dan tanpa plak penyakit gusi tidak terjadi. Ini berarti, dapat disembuhkan bilang rajin membersihkan semua plak dari gigi (John Besfrord, 1996).
Kemunduran atau penyusutan gusi disebut juga dengan atropi atau degenerasi. Jadi kebalikan dari radang. Radang yang disebut juga inflamasi, ada tanda – tanda membengkak, memerah, sakit dan temperatur meninggi di daerah inflamasi atau radang. Sedangkan atropi sebaliknya, tidak ada pembengkakan, melainkan penyusutan atau pengecilan. Ini disebabkan kurangnya bahan makanan melalui darah yang datang ke jaringan tersebut. Ini bisa disebabkan suplai darah di daerah itu sangat kurang ( Machfoedz, 2005)
2.      Macam-macam Gingivitis
Menurut Daliemunthe (2008), Gingivitis terdiri dari 5 macam gingivitis, yaitu :
a.    Givitis Marginalis adalah peradangan gingival bagian marginal yang merupakan stadium awal dari penyakit periodontal (rosad, 2008)
b.    Gingivitis Pubertas adalah gingivitis yang sering terjadi pada anak-anak usai pubertas, yang ditandai dengan gejala gingiva mengalami perubahan warna menjadi merah sampai kebiru-biruan, konsistensi gingival berubah menjadi lunak atau edematous, licin dan berkilat dan permukaan gingival, terutama papilla interdental yang terlibat terlihat licin dan berkilat.
c.    Gingivitis Pregnancy adalah gingivitis yang sering terjadi pada ibu hamil biasanya di tandai dengan gejala gingiva yang cenderung mudah berdarah, baik karena iritasi mekanis maupun secara spontan, gingiva biasanya mengalami perubahan warna menjadi merah terang sampai merah kebiru-biruan dan konsistensi gingiva bebas dan gingiva interdental adalah lunak gingiva (mudah tercabik).
d.   Scorbotic Gingivitis merupakan yang terjadi karena defisiensi vitamin C, di tandai adanya hiperplasi atau ulserasi dan berwarna merah terang atau merah menyala.
e.    Anug (Acute Necrotizing  Ulserative Gingivitis) merupakan satu –satunya gingivitis yang akut, terjadi sangat mendadak dan cepat meluas. Biasanya terjadi pada masa pergantian gigi di mana anak mempunyai oral hygiene buruk. Nama lain dari Anug adalah Vincent’s Gingivitis atau Trench Month.

3.      Proses terjadinya gingivitis
Menurut John Besford (1996), proses terjadinya gingivitis di mulai dari :
a.    Tahap pertama
Plak yang terdapat pada gigi di dekat gusi menyebabkan gusi menjadi merah (lebih tua dari merah jambu), sedikit membengkak (membulat dan bercahaya, tidak tipis dan berbintik seperti kulit jeruk), mudah berdarah ketika di sikat (karena adanya luka kecil pada poket gusi), tidak ada rasa sakit.
b.    Tahap kedua
Setelah beberapa bulan atau beberapa tahun peradangan ini berlangsung. Plak pada gigi dapat menyebabkan serabut paling atas antara tulang rahang dan akar gigi membusuk, dan ini diikuti dengan hilangnya sebagian tulang rahang pada tempat perlekatan. Poket gusi juga menjadi lebih dalam dengan penurunan tinggi tulang rahang tersebut. Gusi tetap berwarna merah, bengkak dan mudah berdarah ketika disikat. Tetapi tidak terasa sakit.
c.    Tahap ketiga
Setelah beberapa tahun tanpa pembersihan plak yang baik, dapat terjadi tahap ketiga. Saat ini akan lebih banyak lagi tulang rahang yang rusak dan gusi semakin turun, meskipun tidak secepat kerusakan tulang. Poket gusi menjadi lebih dalam (lebih dari 6 mm). karena tulang hilang, gigi mulai terasa sakit goyang,  dan gigi depan kadang-kadang mulai bergerak dari posisi semula. Kemerahan, pembengkakan, dan pendarahan masih tetap seperti sebelumnya, dan tetap tidak ada rasa sakit.
d.   Tahap terakhir
Tahap – tahap ini biasanya terjadi pada usia 40-an atau 50-an tahun, tetapi terkadang dapat lebih awal. Setelah beberapa tahun lagi tetap tanpa pembersihan plak yang baik dan perawatan gusi, tahap terakhir dapat dicapai. Sekarang kebanyakan tulang di sekitar gigi telah mengalami kerusakan sehingga beberapa gigi menjadi sangat goyang, dan mulai sakit. Pada tahap ini merupakan suatu akibat gingivitis yang biarkan, sehingga gingivitis terus berlanjut ketahap paling akut yaitu periodontitis.
4.      Faktor-faktor Penyebab Gingivitis
Faktor-faktor etiologi penyakit gingiva dapat diklasifikasikan dengan berbagai cara, berdasarkan keberadaannya, menurut Daliemunthe (2008) faktor – faktor tersebut dapat di klasifikasikan atas :
a.    Faktor  lokal
1)    Plak dental / plak bakteri adalah deposit lunak yang membentuk biofilm yang menumpuk kepermukaan gigi atau permukaan keras lainnya di rongga mulut seperti restorasi lepasan dan cekat.
2)    Kalkulus dental adalah massa terklasifikasi yang melekat kepermukaan gigi asli maupun  gigi tiruan. Bisanya kalkulus terdiri dari plak bakteri yang telah mengalami mineralisai. Berdasarkan lokasi perlekatannya di kaitkan dengan tepi gingiva, kalkulus dental dapat di bedakan atas kalkulus suprangingival dan subgingival.
3)    Material alba adalah deposit lunak, bersifat melekat, berwarna kuning atau putih keabu-abuan, dan  daya melekatnya lebih rendah di bandingkan plak dental.
4)    Stein dental adalah deposit berpigmen pada permukaan gigi.
5)    Debris / sisa makanan.

b.    Faktor  sistemik
Faktor – faktor sistemik adalah faktor yang mempengaruhi tubuh secara keseluruhan misalnya :
1)   Genetik
2)   Nutrisional
3)   Hormonal misalnya : kehamilan dan diabetes
4)   Hematologi / penyakit darah misalnya : anemia, dan leukemia.
5)   Obat-obatan misalnya : dilantin, fenition, dan DPH
c.       Faktor luar
Masalah kesehatan adalah suatu masalah yang sangat kompleks yang berkaitan dengan masalah-masalah lain diluar kesehatan itu sendiri. Demikian juga permasalah kesehatan gigi dan mulut, tidak hanya dilihat dari segi kesehatan gigi dan mulut itu sendiri, tapi harus dilihat dari seluruh segi yang ada pengaruhnya terhadap masalah “sehat sakit” atau kesehatan gigi dan mulut itu sendiri.
Dilihat menurut Notoadmotjo (2003) hanya faktor yang mempengaruhi kesehatan di dalam hal ini kesehatan gigi dan mulut yaitu:
1)   Faktor keturunan
2)   Perilaku
3)   Pelayanan kesehatan
4)   Lingkungan
5.   Indeks Gingival ( gingival index)
Indeks yang di perkenalkan oleh Leo dan Silness ini digunakan untuk menilai derajat keparahan inflamasi. Pengukuran dilakukan pada gingival diempat sisi gigi geligi yang diperiksa : papilla distovestibular, tepi gingival vestibular, papilla mesiovestibular, dan tepi gingival oral.
Skor / Nilai
Gingiva
Kondisi Gingiva
0
Gingiva Normal
1
Inflamasi ringan pada gingival yang di tandai dengan perubahan warna, sedikit oedema, pada palpasi tidak terjadi pendarahan
2
Inflamasi gingival sedang, gingiva berwarna merah, oedema, dan berkilat, pada palpasi terjadi pendarahan.
3
Inflamasi gingival parah, gingival berwarna merah menyolok, oedermatous, terjadi ulserasi, gingival cenderung berdarah spontan.
  
Skor untuk setiap gigi diperoleh dengan menunjukkan skor dari keempat sisi yang diperiksa lalu dibagi dengan empat (jumlah sisi yang diperiksa pergigi). Skor Indeks Gingiva (IG) untuk individu diperoleh dengan membagi jumlah skor dari semua gigi yang diperiksa dengan jumlah gigi yang diperiksa.
Menurut saidina, 2008 keparahan inflamasi gingival secara klinis dapat ditentukan dari skor indeks gingival dengan criteria sebagai berikut :
Skor Indeks Gingiva
Kondisi Gingiva
0,1 – 1,0
1,1 – 2,0
2,1 – 3,0
Gingivitis Ringan
Gingivitis Sedang
Gingivitis parah
           
6.      Tanda – tanda Gingivitis
   Menurut Drg. Donna Pratiwi (2007), ada beberapa tanda – tanda gingivitis, yaitu :
a.    Saat dan setelah menyikat gigi, ada noda darah yang tertinggal pada bulu sikat gigi.
b.    Saat meludah, ada  darah di dalam air liur.
c.    Gusi bisa di pisahkan dari menggunakan tusuk gigi.
d.   Warna gusi mengkilap dan bengkak, kadang – kadang berdarah saat di sentuh..
e.    Tidak selalu di sertai rasa sakit.
f.     Terdapat akumulasi karang gigi di sekitar leher gigi.

7.      Akibat  Lanjut dari Gingivitis
Setelah beberapa tahun tanpa pembersihan plak dan perawatan gusi baik, maka plak akan bersifat basa. Kalsium akan mengendap pada lapisan plak, terjadilah pengapuran sehingga plak mengeras menjadi kalkulus, selain mengandung banyak kuman, permukaan yang kasar akan merusak baik gusi maupun jaringan periodontium di bawahnya (Jhon Bestford, 1996).
8.      Penanggulangan Gingivitis
Menurut Manson (1993), dalam upaya penanggulangan gingivitis mencakup 3 aspek yaitu upaya promotif, prefentif, dan kuratif, yaitu :
a.    Upaya Promotif
Upaya promotif dalam penanggulangan gingivitis yaitu sebagai berikut:
1)   Dokter gigi ataupun perawat gigi memberikan informasi tentang kesehatan gigi.
2)   Memberikan informasi dan pengarahan tentang teknik – teknik pengontrolan plak.
3)   Mendidik pasien agar pasien mengetahui cara – cara menjaga kebersihan mulutnya.
b.      Upaya prefentif
Upaya prefentif dalam penanggulangan gingivitis yaitu sebagai berikut:
1)      Menjaga oral hygiene
2)      Sikat gigi merupakan salah satu cara yang semua orang sudah tahu, mungkin juga sudah dilakukan setiap hari. Jadi yang penting disini adalah pengenalan tehnik sikat gigi yang tepat, memotivasi untuk sikat gigi secara teratur dan pemilihan pasta gigi dengan tepat. Tehnik sikat gigi yang secara horizontal adalah lazim dikenal umum, dan itu merupakan suatu kesalahan karena dengan cara demikian lambat laun dapat resesi gingival dan abrasi gigi. Lebih lanjut lagi, penyakit – penyakit periodontal akan lebih mudah terjadi.
3)      Dental flosh atau  benang gigi merupakan cara yang akhir – akhir ini mulai banyak di perkenalkan, dan cukup ampuh untuk membersihkan di sela – sela gigi. Tapi teknik harus di mengerti dengan tepat karena jikalau tidak, alih – alih mencegah penyakit periodontal, yang terjadi malah melukai gusi dan membuat radang.
4)      Kontrol ke dokter gigi secara teratur di perlukan sebagai salah satu upaya preventif, karena merekalah ahlinya dan terkadang kita sendiri seringkali luput mengamati perubahan pada gigi dan gusi yang masih kecil. Bagi mereka yang pernah menderita penyakit periodontal disarankan untuk control secara teratur ke dokter gigi setiap 3 bulan sekali.
c.    Upaya Kuratif (pengobatan)
Upaya kuratif dalam penanggulangan gingivitis yaitu sebagai berikut :
1)      Scaling merupakan tindakan yang dilakukan untuk membersihkan kalkulus (karang gigi).
2)      Kuretase merupakan tindakan pembersihan periodontal pocket yang berisi banyak food debris maupun kuman untuk mencegah peradangan lanjut. Apabila pocket sedang dalam keadaan akut maka salah satu cara yang dilakukan adalah tindakan kuretase.
3)      Kumur-kumur antiseptic merupakan bahan aktif yang sering digunakan sebagai kumur-kumur. Yang  dijual bebas umumnya berasa dari minyak tumbuh-tumbuhan seperti menta  salisilat ( seperti pada produk Listerine), sedangkan yang perlu diresepkan dokter adalah chlorhexidine 0,20% ( seperti pada produk minosep) dan H202 1,5% atau 3,0%. Kumur-kumur yang lebih murah dan cukup efektif adalah dengan air garam hangat. Sedangkan kumur-kumur antiseptic yang sering di gunakan adalah Chlorhexidine 0,20%. Kumur-kumur sekurangnya 1 menit sebanyak 10 cc terbukti efektif dalam meredakan proses peradangan pada jaringan periodontal.
4)      Antibiotik digunakan apabila terbukti keterlibatan  kuman baik secara klinis maupun mikrobiologis, maka antibiotic mutlak diperlukan. Pada umumnya antibiotic yang digunakan pada penyakit – penyakit gigi adalah golongan penisilin karena kuman yang sering menjadi causanya sensitive terhadap golongan ini. Tetapi pada penyakit periodontal, terutama yang lanjut, perlu di pertimbangkan keterlibatan kuman – kuman gram negative serta anaerob, sehingga dengan demikian pilihan antibiotic jatuh pada tetrasiklin (sering kali digantikan dengan golongan aminopenisilin karena berspectrum luas juga) atau metrroridazol karena efektivitas terhadap anaerob. Pemberian dapat berupa per oral maupun local seperti gel, tergantung dari luasnya dan tahap proses penyakit dan juga di bantu dengan analgetik – anti inflamasi untuk merdeka gejala simtomatik.
5)      Kemudian di bantu konsumsi vitamin dan nutrisi seperti buah dan sayur untuk mengembalikan kesehatan gusi.
Pada akhir perlu di ingat bahwa penyakit gingivitis adalah kelainan yang berawal dari plak sehingga kunci sukses dalam upaya preventif adalah control plak. Dengan mengabaikan control plak, tindakan preventif maupun terapi secanggih apapun umumnya akan kurang berhasil.
C.    Kebersihan  Gigi dan Mulut
Penyebab terjadinya gingivitis dan radang gusi karena kurang menjaga kebersihan gigi dan mulut mereka. Oleh karena itu sangat penting pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut. Menurut Green dan Vermillion, OHI-S (Oral Hygiene Index Symplified) adalah pemeriksaan gigi dan mulut dengan menjumlahkan “Debris Indeks (DI) dan Calsulus Indeks)”.
Pemeriksaan klinis yang dilakukan untuk penilaian debris dan kalkulus dilakukan pada gigi tertentu, yaitu :
1.      Untuk rahang atas gigi yang diperiksa adalah :
a.    Gigi molar satu kanan atas pada permukaan bakal
b.    Gigi insisivus satu kanan atas pada permukaan labial
c.    Gigi molar satu kiri atas pada permukaan bukal
2.      Untuk rahang bawah gigi yang diperiksa adalah :
a.    Gigi molar satu kiri bawah pada permukaan lingual
b.    Gigi insisivus satu kiri bawah pada permukaan labial
c.    Gigi molar satu kanan bawah pada permukaan lingual.

Penilaian Debris Index (DI)
No
Kriteria
Nilai
1.
Pada permukaan gigi yang terlihat tidak adanya debris lunak dan tidak ada pewarna ektrinsik
0
2.
a. Pada permukaan gigi yang terlihat adanya debris lunak yang menutupi permukaan gigi seluas 1/3 permukaan atau kurang dari 1/3 permukaan gingiva / gusi.
b. Pada permukaan gigi terlihat tidak adanya debris lunak akan tetapi, ada pewarna ekstrinsik yang menutupi permukaan gigi sebagian atau seluruhnya.
1
3.
Pada permukaan gigi terlihat ada debris lunak yang menutupi permukaan tersebut seluas lebih dari 1/3, tetapi kurang dari 2/3 permukaan gigi.
2
4.
Pada permukaan gigi yang terlihat ada debris yang menutupi permukaan tersebut seluas lebih dari 2/3 permukaan gigi.
3
Sumber : Depkes R.I., 1995

Penilaian Calculus Index (CI)
No
Kriteria
Nilai
1.
Pada permukaan gigi yang terlihat tidak adanya calculus
0
2.
Pada permukaan gigi yang terlihat adanya calculus supra gingival yang menutupi lebih dari permukaan gigi.
1
3.
i. Pada permukaan gigi adanya calculus supra gingival yang menutupi lebih dari sepertiga permukaan gigi, tetapi kurang dari 2/3 permukaan gigi.
ii. Pada permukaan gigi yang terlihat adanya calculus subgingiva yang menutupi sebagian daerah servikal gigi.
2
4.
a. Pada permukaan gigi yang terlihat adanya calculus supra gingiva yang menutupi sebagian gigi lebih dari 2/3 permukaan gigi.
a. Pada permukaan gigi yang terlihat adanya calculus subgingiva yang menutupi dan melingkari seluruh bagian servikal gigi
3
Sumber : Depkes R.I., 1995

  1. Cara menghitung OHI-S (Oral Hygiene Index Symplified)
    OHI-S = debris Indeks + Calculus Indeks
Kriteria Debris Indeks dan Cakulus Indeks adalah :
1.      Baik                 :  0 – 0,6
2.      Sedang                        :  0,7 – 1,8
3.      Buruk              :  1,9 – 3,0
            Kriteria OHI-S adalah :
1.      Baik                 :  0 – 1,2
2.      Sedang                        :  1,3 – 3,0
3.      Buruk              :  3,1 – 6,0

A.  Kehamilan
1.    Pengertian
Kehamilan adalah pertumbuhan dan perkembangan janin intrauterin mulai sejak konsepsi dan berakhir sampai permulaan persalinan (Manuaba, 1998). Masa kehamilan di mulai dari konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya kehamilan normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari pertama haid terakhir. (Sarwono, 2002).
Kehamilan merupakan suatu perubahan dalam rangka melanjutkan keturunan yang terjadi secara alami, menghasilkan janin yang tumbuh di dalam rahim ibu, dan selanjutnya dapat dijelaskan tingkat pertumbuhan dan besarnya janin sesuai usia kehamilan, pada setiap dilakukan pemeriksaan kahamilan (Muhimah dan Safe’I, 2010). Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa kehamilan adalah peristiwa yang dimulai dari konsepsi (pembuahan) dan berakhir dengan permulaan persalinan.
2.      Etiologi Kehamilan
Menurut Mochtar (1998), Suatu kehamilan akan terjadi bila terdapat 5 aspek berikut, yaitu :
a.    Ovum
Ovum adalah suatu sel dengan diameter + 0,1 mm yang terdiri dari suatu nukleus yang terapung-apung dalam vitelus dilingkari oleh zona pellusida oleh kromosom radiata.
b.    Spermatozoa
Berbentuk seperti kecebong, terdiri dari kepala berbentuk lonjong agak gepeng berisi inti, leher yang menghubungkan kepala dengan bagian tengah dan ekor yang dapat bergerak sehingga sperma dapat bergerak cepat.
c.    Konsepsi
Konsepsi adalah suatu peristiwa penyatuan antara sperma dan ovum di tuba fallopii.
d.      Nidasi Nidasi adalah masuknya atau tertanamnya hasil konsepsi ke dalam endometrium.
e.       Plasentasi Plasentasi adalah alat yang sangat penting bagi janin yang berguna untuk pertukarann zat antara ibu dan anaknya dan sebaliknya.

3.      Tanda-Tanda Kehamilan
a. Tanda-tanda dugaan hamil
1)  Amenorea (terlambat datang bulan)
a)    Mengetahui tanggal haid terakhir dengan perhitungan rumus Naegle dapat ditentukan perkiraan persalinan.
b)   Konsepsi dan nidasi menyebabkan tidak terjadi pembentukan folikel de Graaf dan ovulasi.
2)  Nausea (enek/mual) dan emesis (muntah)
a)    Pengaruh ekstrogen dan progresteron terjadi pengeluaran asam lambung yang berlebihan.
b)   Umumnya terjadi pada bulan-bulan pertama kehamilan, sering terjadi pada pagi hari (morning sickness).
c)    Dalam batas yang fisiologisnkeadaan ini dapat diatasi.
d)   Akibat mual dan muntah nafsu makan berkurang.
3)  Sering buang air kecil
a)    Trimester I : karena kandung kencing tertekan uterus yang mulai  membesar.
b)   Trimester II dan III : karena janin mulai masuk ke ruang panggul dan menekan kembali kandung kencing.
4)  Pimentasi kulit
Terjadi karena pengaruh dari hormon kortikosteroid plasenta yang merangsang melanosfor dan kulit.
a) Sekitat pipi : cloasma gravidarum Keluarnya melanophore stimulating hormon hipofisis anterior menyebabkan pigmentasi kulit pada kulit.
b) Dinding perut
(1) Striae lividae
(2) Striae nigra
(3) Linea alba makin hitam
c) Sekitar payudara
(1) Hiperpigmentasi areola mamae
(2) Putting susu makin menonjol
(3) Kelenjar Montgomery menonjol
(4) Pembuluh darah menifes sekitar payudara
(5) Anoreksia (tidak nafsu makan)
Terjadi pada bulan-bulan pertama kehamilan, tapi setelah itu nafsu makan akan timbul lagi.
(6) Payudara menjadi tegang dan membesar
a) Disebabkan oleh pengaruh estrogen dan progesteron yang merangsang duktuli dan alveoli di mammae glandula montgomerry tampak lebih jelas.
b)  Payudara membesar dan menegang.
c) Ujung saraf tertekan menyebabkan rasa sakit terutama pada hamil pertama.
(7)  Obstipasi atau konstipasi
Terjadi karena tonus otot menurun yang disebabkan olehpengaruh hormon steroid, sehingga menyebabkan kesulitan untuk buang air besar.
(8)  Epulis
Hipertrofi gusi disebut epulis dapat terjadi bila
(9)  Varises atau penampakan pembuluh darah vena
a)  Karena pengaruh dari ekstrogen dan progesterone terjadi penampakan pembuluh darah vena, terutama bagi mereka yang mempunyai bakat.
b) Penampakan pembuluh darah itu terjadi di sekitar genetalia eksterna, kaki dan betis, dan payudara.
c) Penampakan pembuluh darah ini dapat menghitung setelah persalinan.
10)  Mengidam Wanita sering menginginkan makanan tertentu,
11)  Sinkope atau pinsan
a)  Terjadi gangguan sirkulasi ke daerah kepala (sentral) menyebabkan iskemia susunan saraf pusat dan menimbulkan sinkop atau pinsan.
b)  Keadaan ini menghilang setelah umur hamil 16 minggu.
a.      Tanda-tanda Mungkin Hamil
Adapun tanda-tanda kemungkinan hamil menurut Manuaba (1998), yaitu:
1)  Rahim membesar, sesuai dengan tuanya hamil
2)  Pada pemeriksaan dalam dijumpai :
a) Tanda hegar
Uterus segmen bawah lebih lunak dari pada bagian yang lain.
b) Tanda piscasek
Uterus membesar ke salah satu jurusan hingga menonjol jelas ke jurusan pembesaran perut.
c) Tanda Chadwick
Perubahan warna pada servix dan vagina menjadi kebirubiruan.
d) Tanda braxton-hicks Uterus mudah berkontraksi jika dirangsang.
e) Teraba ballottement
3) Pemeriksaan tes biologis kehamilan positif. Sebagian kemungkinan positif palsu (Manuaba, 1998).

c. Tanda-tanda Pasti Hamil
Menurut Sarwono (1999), seorang wanita dipastikan hamil apabila:
1) Terdengar Denyut Jantung Janin.
2) Terasa pergerakan janin dalam rahim
3) Pemeriksaan ultrasonografi
a) Terdapat kantong hamil, hamil 4 minggu
b) Terdapat fetal plate, hamil 4 minggu
c) Terdapat kerangka janin, hamil 12 minggu
d) Terdapat denyut jantung janin, hamil 6 minggu.
4) Pemeriksaan rontgen untuk melihat kerangka janin.

B.     Gingivitis Kehamilan
Gingivitis kehamilan merupakan keadaan yang tidak terlihat pada setiap wanita hamil. Walaupun hygiene mulutnya baik, namun pada gingival dapat terlihat adanya kemungkinan berdarah setelah menyikat gigi atau setelah suklus di probing, hal ini menunjukkan bahwa factor hormon estrogen  dan progesterone yang mengalami peningkatan selama kehamilan sehingga dapat menimbulkan inflamasi gingivitis kehamilan. (Harahap, 1996)
Gingivitis kehamilan biasanya memperlihatkan adanya peningkatan intensitas sejak bulan kedua sampai bulan kedelapan dari kehamilan, dan menurun pada bulan kesembilan. Kondisi ini menghasilkan berbagai iritasi ketidaknyamanan pada wanita hamil, hal ini juga sering mengakibatkan terjadinya pendarahan yang berlebihan pada jaringan gingival. Pendarahan paling sering terjadi selama berfungsi misalkan waktu makan dan selama menyikat gigi, pendarahan yang dialami oleh wanita hamil saat menyikat gigi dan pendarahan yang sering membuat si ibu takut sehingga menjadi lebih mengabaikan hygiene mulut. (Affiandi, 1996)
Menurut Ojanotko. dkk, (1991), Peningkatan gingivitis kehamilan dapat dibagi dalam dua periode, yaitu:
a)    Selama trimester pertama, saat terjadinya produksi berlebihan dari gonadotropin
b)   Selama trimester ketiga, saat tingkat estrogen dan progeesteron paling tinggi. Pada trimester ketiga ini, gingivitis kehamilan terjadi paling parah.

C.    Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Gingivitis Pada Masa Kehamilan
Penyebab utama radang gusi pada ibu hamil sebenarnya sama dengan ibu yang tidak hamil, yakni iritasi lokal seperti plak yang telah mengalami pengapuran (karang gigi), gigi berlubang atau tambalan yang kurang sempurna sehingga terjadi “penahanan” sisa makanan di dalamnya, atau sisa akar gigi yang belum dicabut. Hanya saja, perubahan hormonal yang menyertai kehamilan, misalnya terjadi pelebaran pembuluh darah yang mengakibatkan bertambahnya aliran darah, dapat memperberat reaksi peradangan pada gusi oleh iritasi lokal tersebut (Lalawangi, 2007).
Faktor penyebab timbunya gingivitis pada masa kehamilan menurut Lalawangi, (2007) dapat dibagi 2 bagian, yaitu:
1.    Penyebab Primer
Iritasi lokal seperti plak merupakan penyebab primer gingivitis masa kehamilan sama halnya seperti pada ibu yang tidak hamil, tetapi perubahan hormonal yang menyertai kehamilan dapat memperberat reaksi peradangan pada gusi oleh iritasi lokal. Iritasi lokal tersebut adalah kalkulus/plak yang telah mengalami pengapuran, sisa-sisa makanan, tambalan kurang baik, gigi tiruan yang kurang baik. Saat kehamilan terjadi perubahan dalam pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut yang bisa disebabkan oleh timbulnya perasaan mual, muntah, perasaan takut ketika menggosok gigi karena timbul pendarahan gusi atau ibu terlalu lelah dengan kehamilannya sehingga ibu malas menggosok gigi. Keadaan ini dengan sendirinya akan menambah penumpukan plak sehingga memperburuk keadaan.
2.      Penyebab Sekunder
Kehamilan merupakan keadaan fisiologis yang menyebabkan perubahan keseimbangan hormonal, terutama perubahan hormon estrogen dan progesteron. Peningkatan konsentrasi hormon estrogen dan progesteron pada masa kehamilan mempunyai efek bervariasi pada jaringan, di antaranya pelebaran pembuluh darah yang mengakibatkan bertambahnya aliran darah sehingga gusi menjadi lebih merah, bengkak dan mudah mengalami pendarahan.
Akan tetapi, jika kebersihan mulut terpelihara dengan baik selama kehamilan, perubahan mencolok pada jaringan gusi jarang terjadi. Keadaan klinis jaringan gusi selama kehamilan tidak berbeda jauh dengan jaringan gusi wanita yang tidak hamil, di antaranya;
a)    Warna gusi, jaringan gusi yang mengalami peradangan berwarna merah terang sampai kebiruan, kadang-kadang berwarna merah tua.
b)   Kontur gusi, reaksi peradangan lebih banyak terlihat di daerah sela-sela gigi dan pinggiran gusi terlihat membulat.
c)    Konsistensi, daerah sela gigi dan pinggiran gusi terlihat bengkak, halus dan mengkilat. Bagian gusi yang membengkak akan melekuk bila ditekan, lunak, dan lentur.
d)   Risiko pendarahan, warna merah tua menandakan bertambahnya aliran darah, keadaan ini akan meningkatkan risiko pendarahan gusi.
e)    Luas peradangan, radang gusi pada masa kehamilan dapat terjadi secara lokal maupun menyeluruh. Proses peradangan dapat meluas sampai di bawah jaringan periodontal dan menyebabkan kerusakan lebih lanjut pada struktur tersebut (Lalawangi, 2007).



BAB III
METODE PENELITIAN

A.  Jenis Penelitian
Penilitian ini merupakan penilitian study kasus bersifat deskriptif. Yaitu untuk Mengetahui Apa sajakah faktor-faktor penyebab terjadinya gingivitis pada ibu hamil yang berkunjung ke Poli KIA Puskesmas Batoh Kecamatan Lueng Bata Banda Aceh tahun 2012
B.  Tempat dan Waktu Penelitian
1.    Tempat
Penelitian ini dilakukan di Poli KIA Puskesmas Batoh Kecamatan Lueng Bata Banda Aceh tahun 2012
2.    Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 05 sampai 07 November Tahun 2012.
C.    Populasi dan Sampel
1.    Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu hamil yang berkunjung di poli KIA Puskesmas Batoh yang berjumlah 27 orang.
2.    Sampel
Pengambilan sampel dalam penelitian menggunakan metode accidental sampling atau berdasarkan kasus yang kebetulan ada (Ibu hamil yang terkena penyakit gingivitis) yaitu 18 orang ibu hamil.
D.    Instrumen Penelitian
1.      Kartu Status Pasien
2.      Alat diagnosa set
3.      Kuisioner
E.  Metode Pengumpulan Data 
1.    Data Primer
Data yang diperoleh langsung dengan cara mengumpulkan hasil pemeriksaan kesehatan gigi dan hasil pengisian kuisioner oleh ibu hamil yang terkena gingivitis  yang berkunjung ke Poli KIA Puskesmas Batoh Kecamatan Lueng Bata Banda Aceh.
2.    Data Sekunder
Data tentang ibu hamil yang terkena penyakit  gingivitis pada tahun 2012 yang diperoleh dari Puskesmas Batoh Kecamatan Lueng Bata Banda Aceh.

F.     Cara Pengolahan Data
1.    Pengolahan data dilakukan dengan beberapa tahapan, yaitu sebagai berikut:
a.          Editing,  yaitu memeriksa hasil pengisian kartu status
b.        Coding, yaitu data terkumpul diubah bentuknya ke bentuk yang lebih ringkas dengan menggunakan kode-kode sehingga lebih mudah dan sederhana.
c.         Tabulating, yaitu pemindahan data dari kartu kode kedalam tabel.
2.    Analisa Data
a.       Data yang didapat dari hasil pemeriksaan dan pengisian kuisioner dianalisa secara deskriptif dengan menghitung presentase dari tiap variabel.
b.      Data kebersihan gigi dan mulut digitung dengan OHIS, dan gingivitis dengan gingiva indeks.




BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.  Hasil penelitian
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada tanggal 05 sampai  07 November tahun 2012 pada ibu hamil yang berkunjung di poli KIA Puskesmas Batoh. Hasil pengolahan data yang telah  di dapat adalah sebagai berikut.
a.    Data Umum
1.    Poli KIA
Poli Kia Puskesmas Batoh berada di wilayah Kecamatan Lueng Bata Banda Aceh Tahun 2012
a.    Demografi
1)   Jumlah kepala keluarga dalam wilayah kecamatan lueng bata adalah 5072 KK
2)   Jumlah penduduk kecamatan lueng bata adalah 22699 jiwa dengan rincian 11,196 jiwa laki-laki dan 11, 503 jiwa perempuan.
b.    Geografis
Kecamatan lueng bata mempunyai luas wilayah 534,125 km2 dengan desa batoh sebagai desa terluas dengan luas wilayah 133,500 km2, sedangkan desa dengan luas terkecil  adalah desa lampaloh dengan luas wilayah  13, 325 km2.  Adapun jumlah desa yang ada di wilayah kecamatan lueng bata terdiri dari 9 desa, yaitu:
1)   Desa lueng bata dengan luas wilayah 69,375 km2
2)   Desa Cot Mesjid dengan luas wilayah  33,550 km2
3)   Desa Panteriek dengan luas wilayah 51,300 km2
4)   Desa Blang cut dengan luas wilayah 52, 250 km2
5)   Desa Lamseupeung dengan luas wilayah 76,850 km2
6)   Desa Batoh dengan luas wilayah 133,500 km2
7)   Desa Sukadamai dengan luas wilayah 30,225 km2
8)   Desa Lamdom dengan luas wilayah 13,325 km2
9)   Desa Lampaloh dengan luas wilayah 13,325 km2

b.   Data Khusus
Faktor Penyebab Gingivitis Pada Ibu Hamil
a. Penyebab Primer
1.      Deskripsi Faktor Dalam Penyebab Penyakit Gingivitis
a)      Hasil Pemeriksaan Debris Indeks (DI)

Tabel 3.1
Hasil Pemeriksaan Debris Indeks Pada Ibu Hamil yang Berkunjung Ke Poli KIA Di Puskesmas
Kecamatan Lueng Bata Banda Aceh Tahun 2012

No
Kategori
Jumlah
        Persentase
1
Baik      (0,-0,6)
0
0
2
Sedang  (0,7-1,8)
5
27.8
3
Buruk    (1,9-3,0)
13
72.2
Total
18
100
Sumber Data Primer
Berdasarkan tabel 3.1 diatas maka diketahui indeks debris (DI) bahwa 13 responden (72.2) berada pada kriteria buruk.

b)     Hasil Pemeriksaan Calculus Indeks (CI)
                                         Tabel 3.2
Hasil Pemeriksaan Calculus Indeks Pada Ibu Hamil Yang Berkunjung Ke Poli KIA Di Puskesmas Kecamatan
Lueng Bata Banda Aceh Tahun 2012

No
Kategori
Jumlah
        Persentase
1
Baik     (0,0-0,6)
0
0
2
Sedang (0,7-1,8)
5
27.8
3
Buruk   (1,9-3,0)
13
72.2
Total
18
100
Sumber Data Primer
Berdasarkan tabel 3.2 diatas maka diketahui indeks calculus (CI) bahwa 13 responden (72.2%) berada pada kriteria buruk.

c)      Kriteria OHI-S
Berdasarkan hasil pemeriksaan kebersihan gigi dan mulut yang dilakukan pada ibu hamil yang mengalami gingivitis sebagai berikut: 

Tabel 3.3
Hasil Pemeriksaan Kebersihan Gigi dan Mulut Pada Ibu Hamil Yang Berkunjung Ke Poli KIA Di Puskesmas Kecamatan
Lueng Bata Banda Aceh Tahun 2012

No
Kategori
Jumlah
        Persentase
1
Baik     (0,0-1,2)
0
0
2
Sedang (1,3-3,0)
2
11.2
3
Buruk   (3,1-6,0)
16
88.8
Total
18
100.0
Sumber Data Primer
Berdasarkan tabel 3.3 di atas diketahui 16 responden (88.8%) berada pada kriteria buruk.

d)     Hasil Pemeriksaan Status Gingivitis
Tabel 3.4
Hasil Pemeriksaan Gingivitis Pada Ibu Hamil Yang Berkunjung Ke Poli KIA Di Puskesmas Kecamatan Lueng Bata
Banda Aceh Tahun 2012
g
No
Kriteria Gingiva
Jumlah
Persentase
1
Normal                  (0)
0
0
2
Gingivitis ringan   (0-1,0)
8
44.5
3
Gingivitis  sedang (1,1-2,0)
4
22.2
4
Gingivitis  parah   (2,1-3,0)
6
33.3
Total
18
100.0
Sumber Data Primer
Berdasarkan tabel 3.4 diketahui bahwa proporsi responden terbesar yang menderita gingivitis sebanyak 8 responden (44.5%) berada pada kriteria gingivitis ringan.

c.       Penyebab Sekunder

Tabel 3.5
Distribusi Frekuensi Pertanyaan Faktor Penyebab Sekunder Pada Ibu hamil Yang Berkunjung Ke Poli KIA Di Puskesmas
Kecamatan Lueng Bata Banda Aceh
Tahun 2012

No
Pertanyaan
Jawaban
F
%
1
Apakah anda pernah mengalami gusi bengkak pada masa kehamilan
a.   Pernah
b.  Kadang-kadang
c.   Tidak
18
0
0
100
0
0
2
Selama hamil pernahkan ibu rutin menggosok gigi setelah makan agar terhindar dari penyakit  gingivitis?
a.   Pernah
b.  Kadang-kadang
c.   Tidak
3
15
0
16.7
83.3
0
3
Apakah anda sering mengalami gusi berdarah saat menggosok gigi
a.   Ya
b.  Tidak
c.   Tidak sama sekali
18
0
0
100
0
0
4
Selama kehamilan apakah anda sering mengkonsumsi makanan yang bergizi?
a.   Sering
b.  jarang
c.   Tidak
14
4
0
77.8
22.2
0
5
S Selama kehamilan apakah anda pernah memeriksa kesehatan gigi dan  mulut ke klinik gigi?
a.   Pernah
b.Kadang-kadang
c.   Tidak sama sekali
3
12
3
16.7
66.7
16.6
6
Selama hamil pernahkah gigi anda tiba-tiba terasa panas dan bengkak?
a.    Pernah
b.    Jarang
c.    Tidak sama sekali
17
1
0
94.4
0.6
0
7
Selama hamil, apakah anda pernah mengalami rasa ngilu dan nyeri  pada gigi saat gigi anda berfungsi (sewaktu mengunyah makanan)?
a.    Pernah
b.    Jarang
c.    Tidak pernah

16
2
0
88.9
11.1
0

8
    Pilihlah salah satu yang pernah anda alami  tentang sakit gigi selama anda hamil
a.    Gusi bengkak dan berdarah
b.    Gigi berlubang
c.    Gigi sering sakit dan ngilu
15

0
3
83.3

0
16.7
9
    Apakah  ibu  membiarkan saja  gejala  radang gusi  karena menganggap penyakit radang gusi tersebut merupakan hal  yang  lumrah bagi wanita hamil?
a.    Ya
b.    Tidak
c.    Tidak tahu
2
8
8
11.1
44.5
44.5
10
Pada saat anda  mengalami gusi bengkak pada masa kehamilan, pernahkan ibu menggosok gigi sesering mungkin dengan harapan gusi kembali normal?
a.   Pernah
b.  Jarang
c.   Tidak pernah

3
10
5
16.7
55.6
27.8
Berdasarkan tabel 3.5 terlihat bahwa seluruh ibu hamil mengalami gusi bengkak dan berdarah saat menggosok gigi pada masa kehamilan sebanyak 18 responden (100%).

Tabel 3.6
Distribusi Responden Berdasarkan Usia kehamilan Ibu Hamil yang Berkunjung di KIA Puskesmas Batoh kecamatan Lueng Bata
Banda Aceh Tahun 2012

No
Usia Kehamilan
Jumlah
Persentase
1
0 – 12 minggu
4
22,3
2
13 – 24 minggu
5
27,7
3
25 – 36 minggu
9
50

Total
18
100

Berdasarkan tabel 3.6 diatas terlihat bahwa usia kehamilan paling banyak pada usia kehamilan 25- 36 minggu yaitu 9 ibu hamil (50%).

B.  Pembahasan
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan pada tanggal 05 sampai 07 November 2012 yaitu untuk mengetahui berbagai faktor penyebab terjadinya ginggivitis pada ibu hamil yang berkunjung ke poli KIA Puskesmas Batoh Kecamatan Lueng bata Banda Aceh tahun 2012. Dengan sampel 18 responden yang terkena radang gusi (gingivitis).
Hasil pemeriksaan debris indeks pada 18 ibu hamil yang mengalami gingivitis, yaitu 13 responden (72,2) dengan kriteria buruk. Dari data tersebut berdasarkan pemeriksaan dan wawancara menurut penulis diketahui bahwa kurangnya pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut misalnya dalam hal menyikat gigi mereka mengatakan dengan menyikat gigi akan mengakibatkan rasa mual. Menurut Lodro (2010). Ibu hamil terkadang malas membesihkan gigi dan mulut karena merasa mual. Beberapa masalah seperti gigi berlubang, gusi bengkak, gusi berdarah dan nyeri pada gigi sering kali dialami ibu hamil. Umunya terjadi pada trimester pertama, seabab saat itu ibu hamil sedang mengalami mual dan muntah atau morning sickness yang kemudian membuat ibu hamil malas merawat gigi selain itu ibu hamil senang mengkonsumsi makanan yang asam atau yang manis untuk mengurangi mual dan muntah, makanan yang manis akan menyebabkan pH mulut menjadi asam dimanan ibu hamil semakin malas menyikat dan membersihkan gigi sehingga masalah menjadi menjadi bertumpuk.
Berdasarkan hasil penelitian bahwa kecenderungan terkena penyakit radang gusi yang besar dapat di lihat pada hasil pemeriksaan calculus indeks pada responden, ternyata dalam kategori dengan calculus indeks yang buruk yaitu sebanyak 72.2%. Dari data tersebut menurut penulis dapat diketahui bahwa oral hygiene yang buruk dapat dipengaruhi dengan cara menyikat gigi yang salah dan waktu menyikat gigi yang tidak tepat. Kesehatan gigi individu atau masyarakat merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kesehatan individu atau masyarakat tersebut. Perilaku kesehatan gigi positif misalnya, kebiasaan menyikat gigi sebaliknya perilaku kesehatan gigi negatif misalnya, tidak menyikat gigi secara teratur maka kondisi kesehatan gigi dan mulut akan menurun dengan dampak antara lain gigi mudah berlubang. Pembersihan plak secara sempurna dapat dilakukan dengan menyikat gigi minimal dua kali sehari. Sikat gigi yang baik adalah : bulu sikat cukup panjang, bulu sikat kekerasannya sedang dan lembut, cukup efektif untuk digunakan sehingga tidak merusak jaringan dan sikat gigi harus mudah dibersihkan (Sriyono, 2005).
Berdasarkan hasil pemeriksaan kebersihan gigi dan mulut didapat (hasil pemeriksaan debris indeks dan calculus indeks) bahwa untuk kategori OHI-S yang buruk sebesar 88.8%, sedangkan untuk kriteria sedang sebesar 11.2%. Dari data tersebut diketahui bahwa kecenderungan untuk terjadi gingivitis di Puskesmas Batoh lebih tinggi, sehingga nilai OHI-S yang tinggi turut ikut menjadikan indikator mudanya terkena radang gusi (gingivitis). Karena OHI-S merupakan hasil penjumlahan dari debris dan calculus indeks pada diri seorang buruk, maka otomatis OHI-S nya buruk yang berarti kebersihan gigi dan mulutnya jelek (Heri Julianti, 2001).
Proporsi responden terbesar yang menderita gingivitis sebanyak 8 responden (44.5%), penyakit dalam rongga mulut yang sering terjadi pada waktu hamil yaitu gingivitis, kondisi ini disebabkan ibu hamil yang malas memelihara kebersihan gigi dan mulut sehingga akan menumpuknya sisa-sisa makanan dan terjadinya plak serta terkontaminasi bakteri. Hal ini sejalan dengan teori yang dikemukakan Boediharjo (1985) Penyakit gingivitis ini juga disebabkan oleh faktor lokal (plak dan karang gigi) dan faktor sistemik seperti pengaruh hormonal, faktor umur kehamilan dan perilaku ibu hamil terhadap kesehatan gigi.
Diketahui ibu hamil kurang memperhatikan kesehatan gigi dan mulutnya hal ini sesuai dari hasil penelitian yang diperoleh bahwa 18 responden (100%) ibu hamil dominan mengalami gusi bengkak dan berdarah saat melakukan gosok gigi pada masa kehamilan. Dari data tersebut menurut penulis kurangnya pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut disebabkan oleh kondisi ibu hamil yang sering mengalami mual dan muntah saat menggosok gigi. Sesuai dengan teori yang dikemukakan  Affiandi (1996) Gingivitis kehamilan biasanya memperlihatkan adanya peningkatan intensitas sejak bulan kedua sampai bulan kedelapan dari kehamilan, dan menurun pada bulan kesembilan. Kondisi ini menghasilkan berbagai iritasi ketidaknyamanan pada wanita hamil, hal ini juga sering mengakibatkan terjadinya pendarahan yang berlebihan pada jaringan gingival. Pendarahan paling sering teriadi selama berfungsi misalkan waktu makan dan selama menyikat gigi, pendarahan yang dialami oleh wanita hamil saat menyikat gigi dan pendarahan yang sering membuat si ibu takut sehingga menjadi lebih mengabaikan hygiene mulut.
Tabel 3.6 menunjukan bahwa ibu hamil yang paling banyak menderita ginggivitis pada usia kehamilan 25- 36 minggu yaitu 9 ibu hamil (50%). Berdasarkan data tersebut penulis berasumsi bahwa ibu hamil sering mengalami gingivitis pada bulan kedua sampai bulan kedelapan yang disebabkan oleh pengaruh hormonal. Menurut Haliemunthe (1998) ginggivitis pada kehamilan disebabkan oleh iritasi lokal, tidak terlihat adanya perubahan ginggivitis selama hamil, dalam hal tidak adanya iritasi lokal. Selama kehamilan terjadinya peningkatan hormon dan interaksi bakteri dalam plak sehingga mempercepat terjadinya ginggivitis pada kehamilan.    




BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN


A.  Kesimpulan
Dari hasil penelitian penyakit gingivitis di tinjau dari berbagai faktor penyebab pada ibu hamil yang berkunjung ke Poli KIA di Puskesmas Batoh Kecamatan Lueng Bata Banda Aceh tahun 2012, dapat di simpulkan:
1.    Faktor penyebab primer terjadinya penyakit gingivitis
Kebersihan gigi dan mulut OHI-S yaitu 16 responden (88.8%).

2.    Faktor penyebab sekunder terjadinya penyakit gingivitis
a.       Perubahan kondisi dimana 100% ibu hamil mengalami gusi bengkak dan gusi berdarah.
b.      Ibu hamil malas menggosok gigi atau kadang-kadang menggosok gigi setelah makan sebanyak (88,8 %) 

B.  Saran
1.      Bagi ibu hamil
Bagi Ibu hamil agar lebih memperhatikan kesehatan gigi dan mulut dengan cara menggosok gigi secara  teratur dan periksa gigi setiap 6 bulan sekali ke dokter gigi atau puskesmas serta mengkonsumsi makanan yang bergizi dan berserat.

2.      Bagi Petugas Kesehatan Gigi
Bagi petugas diharapkan lebih aktif dalam mempromosikan tentang kesehatan gigi dan mulut dengan memberikan penyuluhan secara rutin, sehingga dapat menambah pengetahuan dan kesadaran masyarakat dalam menjaga kebebersihan gigi dan mulut terutama pada ibu hamil.



DAFTAR PUSTAKA

Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. 2007. Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas).

Besford, J., 1996. Mengenal Gigi Anda, Peunjuk Bagi Orang Tua. Jakarta

Boediharjo, 2007 Pemeliharaan Kesehatan Gigi Keluarga. Hal 3.30.31 Air Langga University indonesi. Bandung

Dalimunthe,  2004, Terapi periodontal 2nd,USU Press: Medan

Daliemunthe, Saidina Hamzah, 2008. Periodonsia. Universitas Sumatra Utara, Medan.

Depkes RI, 2000 petunjuk pemeliharaan gigi dan mulut keluarga hal 10 Jakarta Frenken. Jo, Prathip phantom Vanit, Taco Pilot, Yupin Song Paisan, Evert Van Amerongent.

________, 2007 Tata Cara Kerja Pelayanan Asuhan Kesehatan Gigi Dan Mulut Di puskesmas, Jakarta Hal 11

________, 2009 Petunjuk Pemeliharaan Kesehatan Gigi Dan Mulut, Jakarta

________, 2009. Sambutan Menteri Kesehatan Pada Lokalnya. http://www.depkes.go.id.

Herijulianti, E., Indonani, ts, Artini. S., 2002. Pendidikan Kesehatan Gigi. Jakarta

________, 2009. Pendidikan Kesehatan Gigi. Jakarta

http : //www. Kesehatan.Kebumenkab.go.id/data/lapriskesdas.pdf.

Machfoedz, I., 2006. Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut Anak-anak dan Ibu Hamil, Fitramaya, Jakarta.

Manson, 1993. Buku Ajar Periodensia, Jakarta.

Mittendorf  R, William MA, Berkey CS, Cotter PF, 2010. The lenght of uncomplicated human gestatioan, Obstet Gynecol 1990;75:929-32. PMID23422739., diakses tgl 07 Juni 2010
Mukhtar. R., 1998. Tanda dan Gejala Kehamilan. Vakultas Kedokteran gigi Usu medan. 

Notoatmojo, 2003). Kesehatan dan ilmu perilah hal 13-30 ed. EGC, Jakarta

Notoatmodjo, S., 2005. Promosi Kesehatan, Teori Aplikasi. Jakarta.

Pratiwi  D, 2007. Gigi Sehat. Jakarta.

Laporan Puskesmas Batoh, 2012 Data Tentang Gingivitis Pada Ibu Hamil. Banda Aceh